Selasa, 07 April 2015

PERKEMBANGAN AKUNTANSI INTERNASIONAL


 
            Akuntansi masa kini telah berkembang dalam tahap masa kedewasaan menjadi suatu aspek integral dari bisnis dan keuangan global. Keputusan yang berasal dari data-data akuntansi, pengetahuan mengenai isu-isu akuntansi internasional menjadi sangat penting untuk mendapatkan interpretasi dan pemahaman yang tepat dalam komunikasi bisnis internasional.
Sejarah akuntansi dan akuntan, memperlihatkan perubahan yang terus menerus secara konsisten. Pada suatu waktu, akuntansi lebih mirip sistem pencatatan bagi jasa-jasa perbankan tertentu dan bagi rencana pengumpulan pajak. Kemudian muncul pembukuan double entry untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan usaha perdagangan. Saat ini akuntansi beroperasi dalam lingkungan perilaku, sektor publik dan Internasional. Akuntansi menyediakan informasi bagi pasar modal-pasar modal besar, baik domestik maupun internasional.
Perkembangan akuntansi terjadi bersamaan dengan ditemukannya sistem pembukuan berpasangan (double entry system) oleh pedagang- pedagang Venesia yang merupakan kota dagang yang terkenal di Italia pada masa itu. Dengan dikenalnya sistem pembukuan berpasangan tersebut, pada tahun 1494 telah diterbitkan sebuah buku tentang pelajaran penbukuan berpasangan yang ditulis oleh seorang pemuka agama dan ahli matematika bernama Luca Paciolo dengan judul Summa de Arithmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita yang berisi tentang palajaran ilmu pasti. Namun, di dalam buku itu terdapat beberapa bagian yang berisi palajaran pembukuan untuk para pengusaha. Bagian yang berisi pelajaran pembukuan itu berjudul Tractatus de Computis et Scriptorio. Buku tersebut kemudian tersebar di Eropa Barat dan selanjutnya dikembangkan oleh para pengarang berikutnya. Sistem pembukuan berpasangan tersebut selanjutnya berkembang dengan sistemyang menyebut asal negaranya, misalnya sistem Belanda, sistem Inggris, dan sistem Amerika Serikat. Sistem Belanda atau tata buku disebut juga sistem Kontinental. Sistem Inggris dan Amerika Serikat disebut Sistem Anglo- Saxon2.
     Perkembangan Akuntansi dari Sistem Kontinental ke Anglo-Saxon Pada abad pertengahan, pusat perdagangan pindah dari Venesia ke Eropa Barat. Eropa Barat, terutama Inggris menjadi pusat perdagangan pada masa revolusi industri. Pada waktu itu pula akuntansi mulai berkembang dengan pesat. Pada akhir abad ke-19, sistem pembukuan berpasangan berkembang di Amerika Serikat yang disebut accounting (akuntansi).
     Sejalan dengan perkembangan teknologi di negara itu, sekitar pertengahan abad ke-20 telah dipergunakan komputer untuk pengolahan data akuntansi sehingga praktik pembukuan berpasangan dapat diselesaikan dengan lebih baik dan efisien. Pada Zaman penjajahan Belanda, perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan tata buku. Akuntansi tidak sama dengan tata buku walaupun asalnya sama-sama dari pembukuan berpasangan. Akuntansi sangat luas ruang lingkupnya, diantaranya teknik pembukuan. Setelah tahun 1960, akuntansi cara Amerika (Anglo-Saxon) mulai diperkenalkan di Indonesia. Jadi, sistem pembukuan yang dipakai di Indonesia berubah dari sistem Eropa (Kontinental) ke sistem Amerika (Anglo-Saxon).

    Identifikasi faktor yang mempengaruhi perkembangan dunia akuntansi
a.      Sumber pendanaan
Pada negara yang memiliki pasar ekuitas yang kuat, akuntansi memiliki fokus atas seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan (profitabilitas), dan dirancang untuk membantu investor menganalisis arus kas masa depan dan risiko terkait. Sedangkan dalam Negara yang menerapkan sistem berbasis kredit, memiliki fokus atas perlindungan kreditor melalui pengukuran akuntansi yang konservatif.
b.      Sistem hukum
Dunia barat mempunyai dua orientasi dasar yaitu hokum kode (sipil) dan hokum umum (kasus). Hukum kode diambil dari hokum Romawi dan kode napoleon. Di Negara-negara yang menerapkan hokum kode, aturan akuntansi digabungkan dalam hokum nasional dan cenderung sangat lengkap serta mencakup banyak prosedur. Sedangkan hukum umum berkembang atas dasar kasus per kasus tanpa adanya usaha untuk mencakup seluruh kasus dalam kode yang lengkap. Aturan akuntansi menjadi adaptif dan inovatif karena ditetapkan oleh organisasi professional sector swasta.
c.      Perpajakan
Di kebanyakan Negara, peraturan pajak secara efektif menentukan standar karena perusahaan harus mencatat pendapatan dan beban dalam akun mereka untuk mengklaimnya guna keperluan pajak. Namun, ketika akuntansi keuangan dan pajak terpisah, kadang-kadang aturan pajak mengharuskan penerapan prinsip akuntansi tertentu, yang berbeda dengan prinsip akuntansi keuangan.
d.      Ikatan politik dan ekonomi
Banyak Negara berkembang yang menerapkan system akuntansi yang dikembangkan oleh bangsa lain, entah karena paksaan ataupun karena keinginan sendiri. Seperti contoh sistem pencatatan double entry yang berawal di italia kemudian menyebar di Eropa; Inggris mengekspor akuntan dan konsep akuntansi di seluruh wilayah kekuasaannya; pendudukan jerman pada saat PD II menyebabkan Perancis menerapkan plan comptable. USA memaksa rezim pengatur akuntansi bergaya USA di Jepang pada saat PD II.
e.      Inflasi
Inflasi menyebabkan distorsi terhadap akuntansi biaya histories dan mempengaruhi kecenderungan (tendensi) suatu Negara untuk menerapkan perubahan terhadap akun-akun perusahaan.



f.       Tingkat Perkembangan Ekonomi
Faktor ini mempengaruhi jenis transaksi usaha yang dilaksanakan dalam suatu perekonomian dan menentukan manakah yang paling utama. Masalah akuntansi seperti penilaian aktiva tetap dan pencatatan depresiasi yang sangat relevan dalam sector manufaktur menjadi semakin kurang penting.
g.      Tingkat Pendidikan
Standar praktik akuntansi yang sangat rumit akan menjadi tidak berguna jika disalahartikan dan disalahgunakan. Pengungkapan mengenai resiko efek derivative, misalnya, tidak akan informatif kecuali jika dibaca oleh pihak yang berkompeten.
h.      Budaya
 Budaya berarti nilai-nilai dan perilaku yang dibagi oleh suatu masyarakat. Variasi budaya mendasari pengaturan kelembagaan di suatu Negara.

  Negara yang dominan dalam perkembangan praktek akuntansi
a.      PRANCIS
Prancis merupakan pendukung utama akuntansi nasional di dunia. Ciri khusus akuntansi di Prancis adalah terdapatnya dikotomi antaralaporan keuangan perusahaan secara tersendiri dengan laporan keuangankelompok usaha yang dikonsolidasikan. Hukum memperbolehkanperusahaan Prancis untuk mengikuti Standar Pelaporan KeuanganInternasional (IFRS) atau bahkan prinsip akuntansi yang diterima umum diAS (GAAP) dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi.
b.      JEPANG.
Akuntansi dan pelaporan keuangan di Jepang mencerminkan gabunganberbagai pengaruh domestik dan internasional. Dua badan pemerintah yangterpisah bertanggung jawab atas regulasi akuntansi dan hukum pajakpenghasilan perusahaan di Jepang memiliki pengaruh lebih lanjut pula. Padaparuh pertama abad ke-20, pemikiran akuntansi mencerminkan pengaruhJerman; pada paruh kedua, ide-ide dari AS yang berpengaruh. Akhir-akhir ini,pengaruh badan Badan Standar Akuntansi Internasional mulai dirasakan danpada tahun 2001 perubahan besar terjadi dengan pembentukan organisasisector swasta sebagai pembuat standar akuntansi. Akuntansi di Jepang sedang dibentuk ulang agar sesuai dengan IFRS.
c.      AMERIKA SERIKAT
Akuntansi di Amerika Serikat diatur oleh Badan Sektor Swasta (BadanStandar Akuntansi Keuangan, atau Financial Accounting Standards Boardi –FSAB), namun sebuah lembaga pemerintah (Komisi Pengawas Pasar Modal atau Securities Exchange Commission – SEC) juga memiliki kekuasaan untuk menerapakan standarnya sendiri.
Akuntansi memiliki peranan penting dalam masyarakat. Tujuan dari akuntansi adalah menyediakan informasi yang dapat digunakan oleh pengambil keputusan untuk membuat keputusan ekonomi. Dalam dunia usaha akuntansi merupakan suatu alat informasi dimana akuntansi memberikan informasi yang akurat untuk pengambilan keputusan
Akuntansi demikian penting dalam kehidupan bisnis dan keuangan, menunjukkan bahwa akuntansi dalam masyarakat bisnis/internasional melakukan fungsi jasa. Akuntansi harus tanggap terhadap kebutuhan masyarakat yang terus berubah dan harus mencerminkan kondisi budaya, ekonomi, hukum, sosial dan politik dari masyarakat tempat dia beroperasi.
Sejarah akuntansi dan akuntan, memperlihatkan perubahan yang terus menerus, suatu proses yang tampaknya dilalui akuntansi secara konsisten. Pada suatu waktu, akuntansi lebih mirip sistem pencatatan bagi jasa-jasa perbankan tertentu dan bagi rencana pengumpulan pajak. Kemudian muncul pembukuan double entry untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan usaha perdagangan. Industrialisasi dan pembagian tenaga kerja memungkinkan dibuatnya analisa perilaku biaya dan adanya akuntansi manajerial. Munculnya perusahaan modern merangsang pelaporan keuangan dan auditing periodik. Akuntansi menyediakan informasi bagi pasar modal-pasar modal besar, baik domestik maupun internasional. Akuntansi telah meluas kedalam area konsultasi manajemen dan melibatkan lebih besar porsi teknologi informasi dalam sistem dan prosedurnya.
Praktek dan standar akuntansi, adalah akibat interaksi kompleks, yaitu:
a. factor institusional
b. factor lingkungan
c. factor ekonomi suatu bangsa
Perubahan kebutuhan factor-faktor ini menuntut perkembangan akuntansi (teori, prinsip dan standar).
Ada tiga pernyataan yang berkaitan dengan pola ini yaitu :
1. Perusahaan bisnis merupakan unit essential dalam struktur ekonomi suatu negara.
2. Perusahaan bisnis mencapai tujuannya dengan cara yang terbaik melalui koordinasi erat aktivitas-aktivitasnya dengan kebijakkan-kebijakkan ekonomi nasional dalam lingkungannya.
3. Kepentingan publik dilayani dengan baik jika akuntansi perusahaan bisnis saling berhubungan erat dengan kebijakan nasional.

Keseragaman Akuntansi
Ada tiga pendekatan praktis atas pola pengembangan keseragaman akuntansi :
1. Pendekatan bisnis
2. Pendekatan ekonomi
3. Pendekatan teknis
Kebutuhan Akuntansi dari negara berkembang
Perhatian akuntansi di negara berkembang meliputi,yaitu
1. Tipe sistem akuntansi yang sedang dibutuhkan
2. Pendidikan dan sarana lalin apa yang harus dipakai Negara sedang berkembang untuk memperbanyak akuntan terlatih.
Fungsi Akuntansi dalam ekonomi terpusat
Perbedaan yang mendasar antara ekonomi pasar dan ekonomi terpusat adalah bahwa dalam ekonomi terpusat, semua aktivitas ekonomi yang substantive dikelola oleh pemerintah.
Pertumbuhan perdagangan internasional di Italia Utara selama akhir abad pertengahan
-     Tahun 1850-an double entry bookkeeping mencapai Kepulauan Inggris
-     Tahun 1870-an tumbuhnya masyarakat akuntansi dan profesi akuntansi publik yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris.Praktik akuntansi Inggris menyebar ke seluruh Amerika Utara dan seluruh wilayah persemakmuran Inggris.
-     Selain itu model akuntansi Belanda diekspor antara lain ke Indonesia, Sistem akuntansi Perancis di Polinesia dan wilayah-wilayah Afrika dibawah pemerintahan Perancis. Kerangka pelaporan sistem Jerman berpengaruh di Jepang, Swedia, dan Kekaisaran Rusia.
-     Paruh Pertama abad 20, seiring tumbuhnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat, kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian Akuntansi diakui sebagai suatu disiplin ilmu akademik tersendiri.
-     Setelah Perang Dunia II, pengaruh Akuntansi semakin terasa di Dunia Barat.

Sabtu, 20 Desember 2014

Tugas 4 Softskill

MY OPINI ABOUT JOB CREATOR AND JOB SEEKER

            Job Creator dan Job Seeker, pernahkah anda mendengar dua kata tersebut ? atau mungkin anda salah satu diantara mereka ? ya mungkin kedua istilah tersebut sudah tidak asing lagi untuk di dengar. Seperti yang kita tahu Job Creator adalah orang yang membuat lapangan pekerjaan / wirausaha, sedangkan Job Seeker adalah orang yang mencari pekerjaan. Kebanyakan sekarang orang ataupun mahasiswa yang fresh graduate lebih memilih menjadi Job Seeker dibandingkan menjadi Job Creator. Mereka lebih senang bekerja di perusahaan atau organisasi dari pada membuat atau membuka lapangan pekerjaan atau yang sering disebut dengan berwirausaha. Orang-orang di jaman sekarang ini telah banyak tergiur dengan gaji yang tinggi, bekerja di tempat yang bagus, dan dikatakan sebagai seorang kayawan/karyawati. Mereka berlomba-lomba mencari info lowongan pekerjaan kesana-kesini demi mendapatkan pekerjaan impian yang selama ini telah mereka idam-idamkan kemudian mereka melamar pekerjaan ke perusahaan 1 atau ke yang lainnya dengan membuang banyak biaya, waktu dan tenaga. Namun apakah menjadi seorang Job Seeker akan dapat banyak keuntungan di masa yang akan datang ? yang jelas tidak ada yang salah dengan apapun pilihan mereka tapi apakah lebih baik jika kita menjadi seorang Job Creator / wirausaha ?

Untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan dan meningkatkan aktivitas kewirausahaan agar para lulusan perguruan tinggi lebih menjadi pencipta lapangan kerja dari pada pencari kerja, maka diperlukan suatu usaha nyata. Berbagai kebijakan dan program untuk mendukung terciptanya lulusan perguruan tinggi yang lebih siap bekerja dan menciptakan pekerjaan. Program Magang Kewirausahaan (MKU), Kuliah Kerja Usaha (KKU), Kuliah Kewirausahaan (KWU), Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), telah banyak menghasilkan alumni yang terbukti lebih kompetitif di dunia kerja, dan hasil-hasil karya invosi mahasiswa melalui PKM potensial untuk ditindaklanjuti secara komersial menjadi sebuah perkembangan bisnis berbasis Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (Ipteks).

            Pada dasarnya menjadi seorang wirausaha / job creator terlebih dahulu harus memiliki sifat-sifat yang lahir dalam dirinya agar berhasil dalam melakukan apa yang diinginkannya. Sifat-sifat tersebut diantaranya :
  • Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
  • Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif.
  • Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
  • Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
  • Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
  • Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.
  • Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.
Dari beberapa sifat-sifat diatas sangat mencerminkan bahwa seorang job creator lebih mempunyai kemandirian dan keberanian dalam menciptakan lapangan perkerjaan baru dibanding menjadi seorang job seeker. Job creator dan job seeker mempunyai perbedaan yang mendasar yang pasti sudah kita ketahui, yaitu :

Job Creator :
a.       Membuka lapangan pekerjaan sendiri
b.      Bebas bereksplorasi terhadap usaha yang didirikannya
c.       Tidak terikat waktu
d.      Mandiri
e.       Independen
f.       Berorientasi pada masa yang akan datang

Job Seeker :
a.       Terikat dengan waktu
b.      Harus bekerja mengikuti prosedur
c.       Kurang independen
d.      Sedikit terkekang
e.       Sering kehilangan banyak waktu

Itulah beberapa contoh perbedaan job creator dengan job seeker yang dapat kita lihat. Dari perbedaan tersebut dapat kita simpulkan bahwa menjadi job creator lebih baik dibanding hanya menjadi job seeker. Hal inilah yang membuat kita berpikir bahwa pola pikir yang selama ini kita pikirkan untuk menjadi seorang job seeker sedikit demi sedikit harus di perbaiki secara tepat. Contohnya antara lain :

1. Tidak mempunyai keyakinan, gantikan dengan sebuah keyakinan yang kokoh untuk menjadi yang terbaik
2. Tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas, gantikan dengan menetapkan tujuan hidup yang jelas dan mantap
3. Tidak mempunyai strategi yang ampuh mengatasi kesulitan hidup, gantikan dengan belajar dari orang lain   dan berpikirlah secara komprehensif untuk mengatasi setiap persoalan yang dihadapi
4. Tidak mempunyai rencana yang realistik, gantikan dengan tetapkan rencana yang masuk akal untuk dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu dengan cara yang elegan.

            Terlepas dari beberapa hal diatas, pasti banyak orang yang bertanya-tanya apa sih kelebihan dan kekurangan menjadi seorang job creator dibanding job seeker. Setiap apa yang kita pilih untuk hidup kita pasti selalu terdapat kelebihan dan kekurangan, dalam hal ini kelebihan dan kekurangannya adalah :

a.       Waktu yang kita miliki menjadi lebih banyak
Waktu yang kita miliki pasti akan lebih fleksibel dibanding menjadi seorang job seeker yang setiap harinya selalu terikat dengan waktu.

b.      Mempunyai pendapatan sendiri
Berbeda dengan job seeker, mereka menghasilkan uang dengan bekerja dan di gaji sesuai dengan kesepakatan, tidak seperti job creator yang bisa mendapatkan uang yang banyak atau sedikitnya tergantung usaha dari dirinya sendiri.

c.       Membuka lapangan pekerjaan baru
Dalam hal ini job creator dapat membuka lapangan pekerjaan baru yang sangat bermanfaat untuk semua orang.

d.      Ilmu dan wawasan semakin luas
Tak hanya rekanan saja yang bertambah, ilmu pengetahuan dan wawasan akan terus berkembang. Misalnya ilmu dan wawasan seputar perkembangan bisnis,ekeonomi dan sosial. Hal ini  juga bisa didapatkan dari  rekanan/client yang sering kita temui.

e.       Memperluas usaha dengan mempunyai banyak rekan
Dengan menjadi job creator, sehari-harinya kita akan bertemu dengan banyak orang, dan bisa saja salah satu dari beberapa orang yang sering kita temui dapat menjadi Partner bisnis yang menguntungkan untuk memperluas usaha yang kita dirikan.

f.       Dapat menyalurkan hobby melalui pekerjaan
Hal ini akan menjadi nilai tambah bagi seorang job creator. Karena kita dapat menyalurkan hobby atau bakat yang kita punya untuk menghasilkan barang atau jasa yang bermanfaat bagi banyak orang.

Sedangkan untuk kekurangannya adalah :

a.       Pendapatan yang diterima tidak pasti

b.      Bekerja dengan waktu yang panjang
Tentu seorang job creator ingin selalu mengembangkan usahanya, namun kadangkala proses ini sangat memakan banyak waktu dan dituntut untuk bekerja keras.

c.       Modal yang pas-pasan
Seorang job creator baru – baru untuk memulai usaha pasti dengan modal yang sangat minim, karena pada dasarnya ia baru mencoba sesuatu hal yang baru. Hal ini akan berdampak positif dan negatif, positifnya jika ia dapat menggunakan modal dengan sebaik-baiknya maka ia akan mendapatkan tambahan modal serta dapat menambah aset dalam menjalankan usahanya, sedangkan negatifnya jika ia tidak dapat memanfaatkannya dengan baik, alhasil modal yang ia keluarkan akan menjadi sia-sia dan terbuang dengan percuma.

d.      Tanggung jawab serta resiko yang besar
Hal ini mungkin sudah biasa bagi seorang job creator. Kelangsungan usaha yang dimilikinya tergantung dari kemampuan pemilik usaha. Jika ia dapat meminimalisir semua hambatan dan dapat menggeser resiko, otomatis resiko yang ia hadapi akan semakin kecil.

e.       Banyaknya beban pikiran
Seorang job creator sama seperti yang lainnya ia hanyalah seorang manusia, beban yang ia pikul bukan hanya kehidupan sehari-harinya namun juga dengan usaha yang ia dirikan. Dalam hal ini apabila seorang job creator merasa tidak mampu menyelesaikan masalahnya maka yang di lakukan adalah harus bisa mengkonsultasikan masalah bisnisnya pada rekan bisnis yang lebih senior atau jasa konsultan bisnis. Agar problem yang di hadapi segera teratasi.

Sebenarnya menjadi seorang job creator maupun job seeker adalah keinginan dari individual masing-masing. Hal ini pada dasarnya sangat berpengaruh juga terhadap kemampuan dan hati nurani mereka masing-masing. Jika ia lebih suka dengan membuat usaha sendiri atau lebih memilih bekerja sebagai seorang pegawai di sebuah entitas itupun tidak masalah. Yang terpenting bagaimana ia bisa mengatur apa yang ia kerjakan. Karena setiap apa yang kita pilih akan menentukan bagaimana nasib kita dimasa yang akan datang, maka dari itu harus dipikirkan secara matang-matang agar jalan yang kita ambil tidak salah dan menyesatkan diri sendiri. Percaya pada hati bahwa apa yang kita lakukan itu benar dan tidak merugikan orang lain.



            

Selasa, 02 Desember 2014

Tugas 3 Softskill

REVIEW ATAS JURNAL TENTANG KECURANGAN AUDIT

Jurnal Fokus Ekonomi
Vol. 4 No. 1 Juni 2009 : 13 - 26

Judul Jurnal :

PERBANDINGAN PERSEPSI AUDITOR INTERNAL,
AKUNTAN PUBLIK, DAN AUDITOR PEMERINTAH TERHADAP
PENUGASAN FRAUD AUDIT DAN PROFIL FRAUD AUDITOR
(The Comparation of Perception Between Internal Auditor,
Public Accountans, and Government Auditors to Fraud Audit
Assignation and Internal Auditor Profile)

Penulis :

Eman Sukanto


Abstrak

Fraud scheme yang diterapkan oleh pelakunya di entitas pemerintah maupun komersial berdampak buruk terhadap perekonomian dan sangat merugikan stakeholders. Profesi auditor sebagai salah satu pilar dalam mengawal good (corporate) governance dan penjaga gawang dalam pencegahan tindak kecurangan, memiliki andil yang besar dalam menciptakan sistem keuangan yang sehat dan akuntabel. Beberapa tahun terakhir, terjadi perubahan yang signifikan terhadap profesi auditor. Perubahan tersebut dipengaruhi regulasi dari luar maupun dalam negeri dimana secara langsung maupun tidak, menuntut persyaratan yang lebih tinggi terhadap sistem kerja mereka. Auditor internal, auditor eksternal maupun auditor pemerintah secara struktur organisasi, status pegawai, lingkup pekerjaan, serta pedoman yang digunakan dalam pelaksanaan audit relatif berbeda, namun secara esensi tugas mereka sama yakni memberi keyakinan memadahi bahwa laporan yang diaudit bebas dari salah saji material yang disebabkan kekeliruan (error) maupun kecurangan (fraud).  Penelitian ini dilakukan untuk menguji dan menganalisis persepsi kelompok auditor internal, akuntan publik, dan auditor pemerintah terhadap penugasan audit kecurangan (fraud audit) dan profil auditor kecurangan (fraud
auditor).
Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Responden terdiri dari 33 auditor internal yang bekerja di beberapa perusahaan besar, 66 auditor eksternal yang bekerja di Kantor Akuntan Publik, serta 54 auditor pemerintah yang bekerja di BPK. Untuk menguji hipotesis, penelitian ini menggunakan teknik One Way Anova.
Hasilnya menyatakan tidak ada perbedaan persepsi signifikan antara auditor internal, akuntan publik dan auditor pemerintah terhadap fraud audit maupun profil fraud auditor. Rata-rata tingkat persepsi yang mereka miliki tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga kelompok auditor sama-sama memiliki keinginan yang kuat dalam mencegah, mendeteksi dan mengungkap fraud pada entitas yang sedang mereka periksa.

Kata kunci:   Auditor internal, Auditor eksternal, Auditor pemerintah, Fraud audit, Fraud auditor.

1.      Pendahuluan
1.1  Latar Belakang
Fraud audit merupakan isu menarik untuk dibahas dalam lingkup pemeriksaan keuangan akhir-akhir ini. Lebih menarik lagi jika bahasan masuk ke topik korupsi, bagian dari fraudyang paling sering didiskusikan di media atau forum lain. Hal ini tidak lepas dari dampak besar yang ditimbulkan korupsi, terutama di sektor perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Di Indonesia, begitu besar efek korupsi sehingga dukungan untuk memberantasnya pun juga besar, hampir semua lembaga termasuk LSM bahkan negara sahabat ikut membantu. Permasalahan dan solusi mengenai korupsi dibahas dari sudut pandang ekonomi, sosiologi, agama, budaya, sistem pemerintahan serta hukum. Namun demikian arah menciptakan kehidupan bernuansa anti korupsi terutama di lingkungan pemerintahan masih perlu ditingkatkan.
Dari sudut pandang akuntansi, masih jarang kita melihat terobosan ataupun kontribusi nyata dari para akuntan secara tegas melawan fraud. Padahal akuntan memiliki ”hak istimewa” dalam tugas pencegahan dan pemberantasan fraud lewat pemeriksaan laporan keuangan. Ibarat pasukan besar yang akan menyerbu suatu lokasi, akuntan layaknya unit khusus yang masuk lebih dulu dibanding pasukan lainnya. Hal ini tentu membutuhkan akuntan-akuntan yang memiliki kemampuan lebih. Sosok fraud auditor ideal adalah orang yang memiliki kemampuan tinggi di bidang akuntansi, didukung kemampuan luas di bidang ekonomi, keuangan, perbankan, perpajakan, bisnis, teknologi informasi dan tentu ilmu hukum. Ia juga seorang investigator yang handal, yang memiliki pengetahuan dan intuisi di bidang penyidikan. Dalam mengungkap fraud yang sangat rumit dalam sebuah sistem birokrasi pemerintah maupun komersial, tidak bisa dikerjakan oleh auditor biasa yang memiliki kemampuan terbatas, lebih dari itu harus seorang akuntan yang memiliki kompetensi baik dengan pengetahuan dan pengalaman luas.
Statement on Auditing Standards (SAS) No. 99 - Consideration of Fraud in a Financial Statement Auditsebagai pengganti SAS No. 82 menyatakan bahwa: “The auditor has responsibility to plan and perform the audit to obtain reasonable assurance about whether the financial statements are free of material misstatement, whether caused by error or fraud”. “Auditor bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit guna mendapatkan keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan maupun kecurangan”. Dengan perkembangan teknologi, khususnya bidang teknologi informasi saat ini, kesalahan akibat error relatif mudah dideteksi. Yang perlu diwaspadai adalah kesalahan karena fraud yang diciptakan oleh pelakunya.
Fungsi dan peran auditor internal, akuntan publik dan auditor pemerintah secara struktur organisasi, status pegawai, job description dan cakupan pekerjaan adalah berbeda, namun secara prinsip sama, yakni membuktikan bahwa laporan yang dibuat auditeebenar dan wajar terbebas dari kesalahan (error) maupun kecurangan (fraud). Visi ketiganya tentang fraudsama, bagaimana mencegah dan mendeteksi sedini mungkin tindakan fraud supaya kerugian yang ditimbulkan diminimalkan bahkan dihindari.
Pertanyaan menarik untuk diteliti adalah berbedakah pandangan auditor internal, eksternal dan pemerintah terhadap fraud? Benarkan fraud menjadi faktor utama penyebab timbulnya krisis? Lebih jauh lagi, banyaknya praktek fraud di entitas komersial maupun pemerintah itu dikarenakan sosok auditor masih jauh dari ideal ataukah kehebatan pelaku kecurangan yang dapat menciptakan fraud scheme sedemikian rupa sehingga sulit dideteksi para auditor? Jika sosok fraud auditor ideal tersebut ternyata ada, tetapi sistem pemerintahan dan penegakan hukum belum mendukung, dapatkah good governance berjalan dengan mulus?

2.      Pemahaman Jurnal

Dari abstrak serta latar belakang yang disusun oleh Eman Sukanto diatas, penulis mencoba menyampaikan apa yang disampaikan dalam jurnalnya. Pada bagian abstrak jurnal di deskripsikan tujuan dalam penyusunan jurnal adalah untuk melihat apakah ada perbedaan persepsi antara auditor internal, akuntan publik dan auditor pemerintah terhadap penugasan fraud audit dan profil fraud auditor.
Jurnal tersebut menyebutkan apa motif dan indikator seorang auditor melakukan kecurangan dalam melaksanakan tugasnya serta macam-macam kecurangan yang sering terjadi dan bagaimana cara melakukan pencegahan dari kecurangan tersebut dengan melakukan kegiatan detektif dan investigasi untuk menyusuri kecurangan tersebut. Tidak hanya itu, dalam jurnal ini disebutkan berbagai tindakan kecurangan di Entitas Pemerintah.
Dalam teori persepsi yang dikemukakan Robbins (2005), bahwa apa yang dipersepsikan seseorang dapat berbeda dari kenyataan objektif, dimungkinkan juga berlaku bagi auditor khususnya di Indonesia. Secara individu, para auditor memiliki keinginan yang tinggi terhadap upaya pencegahan fraud. Mereka memiliki sikap, minat dan harapan yang besar terhadap upaya itu. Namun kenyataan di lapangan, sistem yang berjalan kurang mengakomodasi idealisme tersebut. Seolah para akuntan ingin berbuat, tetapi terbentur tembok, sehingga pandangan masyarakat terhadap auditor di masa lalu kurang baik.
Jurnal tersebut menjelaskan apa saja tugas auditor internal, akuntan publik dan auditor pemerintah untuk tau hal-hal apa saja sesuai dengan standar audit yang berlaku.

                        Dengan membaca seluruh isi jurnal tersebut, dapat ditarik beberapa perumusan masalah yaitu :
a.       Apakah persepsi auditor internal, akuntan publik dan auditor pemerintah terhadap penugasanfraud audit dan profil fraud auditor berbeda ?
b.      Dalam auditor pemerintah, apakah entitas sering ditemukan melakukan kecurangan ?
c.       Apakah investigasi dapat membantu para auditor untuk mendeteksi kecurangan ?



Dari beberapa perumusan masalah diatas, dapat di tarik jawaban sebagai berikut :
a.       Dalam melakukan uji hipotesis dengan one way anova, persepsi dari masing-masing auditor terhadap penugasan fraud audit dan profil fraud auditor adalah sama. Masing-masing beranggapan bahwa penugasan tersebut harus dilakukan dan sangat kuat untuk menghindari adanya kecurangan.
b.      Beberapa masih sering di temukan kecurangan terutama dibidang pajak. Entitas sering kali memanipulasi data pajak.
c.       Menurut saya, investigasi baik dilakukan. Karena investigasi mempunyai tujuan bukan untuk mencari siapa pelakunya, namun menekankan pada bagaimana kejadian sebenarnya (search for the truth), setelah kejadian sebenarnya terungkap, secara otomatis pelaku fraud akan didapat.


3.      Metode Penelitian

Terdapat dua kelompok variabel yang diteliti yaitu persepsi penugasan fraud audit dan profil fraud auditor. Masing-masing variabel adalah independen, tidak mempengaruhi satu sama lain, lalu dilakukan uji terhadap tiga kelompok auditor yakni auditor internal, auditor eksternal (akuntan publik) dan auditor pemerintah.

3.1  Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, diperoleh melalui survey dengan cara mengirim kuesioner, baik secara langsung maupun via pos kepada auditor internal yang bekerja di perusahaan komersial, auditor yang bekerja KAP serta auditor pemerintah yang bekerja di BPK.

3.2  Pengukuran Variabel

Variabel-variabel yang diukur melalui persepsi para kelompok auditor internal, akuntan publik dan auditor pemerintah dalam penelitian ini adalah penugasan  fraud audit dan profil fraud auditor. Variabel-variabel tersebut diukur dengan menggunakan skala likert 1 – 10.

3.3  Sampel

Teknik pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling kemudian dijudgment, yakni sampel yang dipilih hanya yang memiliki ciri-ciri tertentu yang oleh peneliti dianggap merupakan ciri penting dari populasi, kemudian ditentukan yang dianggap bisa mewakili serta memiliki peluang kuesioner bisa dikembalikan.
a.  Auditor internal yang bekerja di beberapa perusahaan swasta dan BUMN sebanyak 33 .
b. Auditor yang bekerja Kantor Akuntan Publik nasional atau lokal yang memiliki kantor di Jakarta, Semarang dan Surabaya sebanyak 66..
c. Auditor pemerintah yang bekerja di BPK Pusat dan sebagian perwakilannya di Jawa sebanyak 54.


4.      Hasil Penelitian
Dengan menggunakan uji hipotesis 1 One Way Anova, tidak ada perbedaan persepsi signifikan
antara auditor internal, akuntan publik dan auditor pemerintah terhadap penugasan Fraud Audit diterima berdasarkan angka yang ditunjukkan dalam F hitung 1,150 pada tingkat signifikansi 0,05.
                        Hipotesis 2 yang menyatakan tidak ada perbedaan persepsi signifikan antara auditor internal, akuntan publik dan auditor pemerintah terhadap profil  Fraud Auditor diterima berdasarkan angka yang ditunjukkan dalam F hitung 1,023 pada tingkat signifikansi 0,05.
Rata-rata persepsi dari ketiga kelompok auditor tersebut tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga kelompok auditor sama-sama memiliki keinginan yang kuat untuk mencegah, mendeteksi dan mengungkap fraudpada entitas yang sedang mereka audit, serta memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi fraud auditorsaat mereka menjalankan tugas pemeriksaan.

5.      Kesimpulan

Penelitian ini yang menyimpulkan persepsi tiga kelompok auditor terhadap penugasan fraud audit maupun profil fraud auditor rata-rata kuat, sangat mendukung  Statement on Auditing Standards (SAS) No. 99 - Consideration of Fraud in a Financial Statement Audit.

Merujuk pada teori harapan dalam persepsi, auditor memiliki harapan yang tinggi terhadap terciptanya good (corporate) governance, sistem ekonomi yang sehat dan akuntabel, nilai saham dan laba perusahaan meningkat, kesejahteraan meningkat, serta organisasi memiliki nilai lebih dimata stakeholders. Harapan tersebut akan mendukung kinerja auditor saat menjalankan tugas pemeriksaan.


6.      Implikasi

a.       Kenyataan membuktikan bahwa persepsi internal, akuntan publik maupun auditor pemerintah terhadap penugasan fraud audit maupun profil fraud auditor sama ingginya. Hal ini menunjukkan mereka sama-sama memiliki keinginan yang kuat untuk mendeteksi, mencegah dan menginvestigasi kecurangan yang ada pada entitas yang sedang mereka periksa, serta berkeinginan kuat untuk menjadi fraud auditor saat menjalankan tugasnya jika dimungkinkan.

b.      Pihak regulator maupun pihak-pihak yang berkompeten terhadap kinerja auditor, supaya dapat mengakomodasi kenyataan di atas, agar dapat mendorong terciptanya para auditor yang lebih profesional, independen dan lebih menjamin laporan keuangan bebas dari salah saji material yang disebabkan kecurangan.

c.       Masyarakat luas sangat berharap terhadap auditor supaya dapat menjadi motor penggerak untuk mendorong terciptanya good corporate governance di semua sektor, baik itu di lingkungan komersial maupun pemerintahan.

d.      Khusus untuk Indonesia, negara yang saat ini sedang giat-giatnya memberantas korupsi, dimana korupsi bagian dari kejahatan luar biasa (extra ordinary crime), peran auditor sangat diharapkan dapat mendukung agenda pemerintah tersebut.


7.      Referensi

Eman Sukanto. 2009. Perbandingan Persepsi Auditor Internal, Akuntan Publik dan Auditor Pemerintah Terhadap Penugasan Fraud Audit dan Profil Fraud Auditor. Jurnal Fokus Ekonomi. Vol 4 No. 1 13 – 26. Semarang